Lewati ke isi
MalangSatu

Pendidikan

Tim Dosen HI UMM Publikasikan Buku Hasil Riset Kerja Sama Maritim Indonesia–Korea Selatan

A.Z Abisha, Tutus Sugiarto

12 Oktober 2026 · baru saja

MALANG KOTA – Tim peneliti Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengkaji peluang pengembangan jaringan kerja sama maritim Indonesia dan Korea Selatan melalui pendekatan maritime paradiplomacy. Penelitian yang didukung Korea Foundation melalui program 2025 KF Policy Research Grant ini menghasilkan buku akademik berjudul Archipelago Meets Peninsula: Building a Regional Maritime Paradiplomacy Network between Indonesia and South Korea, yang diterbitkan Penerbit UMM pada Juli 2026.

Penelitian tersebut dipimpin Tonny Dian Effendi bersama Havidz Ageng Prakoso, Shannaz Mutiara Deniar, dan Hamdan Nafiatur Rosyida. Kajian ini menyoroti peran pemerintah daerah, kota pelabuhan, otoritas pelabuhan, serta institusi lokal dalam membangun kemitraan lintas negara. Dengan demikian, kerja sama maritim tidak hanya bertumpu pada hubungan antarpemerintah pusat, tetapi juga dapat dikembangkan sesuai potensi dan kebutuhan wilayah.

“Melalui pendekatan paradiplomasi maritim, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dapat dibangun lebih dekat dengan kebutuhan daerah. Potensi pelabuhan, perikanan, ekonomi biru, dan pariwisata bahari bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kolaborasi yang saling melengkapi,” ujar Hamdan Nafiatur Rosyida.

Pendekatan ini memberi ruang bagi daerah untuk menyusun agenda kemitraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal, sekaligus menghubungkan kepentingan pembangunan wilayah dengan kerja sama regional. Peluangnya mencakup konektivitas logistik, pengelolaan pelabuhan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kedua negara.

Salah satu tahapan penelitian ini ialah lokakarya kolaboratif pada Januari 2026 yang mempertemukan peneliti dari Indonesia dan Korea Selatan. Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan, membahas temuan, dan merumuskan perspektif bersama mengenai peluang kerja sama maritim.

Buku ini juga memuat kata pengantar Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Ia menekankan bahwa hubungan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan besar dan pemerintah nasional. Aktor lokal, termasuk kota, pelabuhan, institusi, dan komunitas, turut berperan dalam membangun hubungan lintas negara. Perguruan tinggi juga dinilai penting untuk menjembatani pengembangan pengetahuan dengan praktik kebijakan melalui riset, dialog, dan pertukaran akademik.

Sejumlah kajian dalam buku tersebut membahas potensi hubungan Pelabuhan Busan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur, peluang kerja sama di Probolinggo dan Kalimantan Timur, pengembangan ekonomi biru, pariwisata bahari, serta tata kelola nelayan migran.

Indonesia memiliki sumber daya laut dan konektivitas antarpulau yang besar, sedangkan Korea Selatan memiliki pengalaman dalam industri maritim, teknologi, perdagangan laut, dan pengelolaan pelabuhan. Perbedaan kapasitas ini membuka peluang pertukaran pengetahuan dan penguatan kelembagaan.

Penerbitan buku ini menjadi hasil konkret kolaborasi riset yang menghubungkan penelitian, diskusi akademik, lokakarya, dan publikasi. Program Studi Hubungan Internasional UMM bersama Center for East Asia Studies berharap kajian ini dapat menjadi referensi bagi akademisi, mahasiswa, pembuat kebijakan, pemerintah daerah, dan pengelola pelabuhan. Ke depan, gagasan di dalamnya diharapkan ditindaklanjuti melalui kemitraan antarkota dan antarpelabuhan, pertukaran pengetahuan, serta program bersama yang memberi manfaat bagi wilayah pesisir dan sektor maritim kedua negara.