Lewati ke isi
MalangSatu

Budaya

Menjaga Warisan Leluhur, Tri Handoyo Terus Lestarikan Tari Topeng Malangan

Faris AL, Rully Novianto

13 Oktober 2026 · 16 jam lalu

Tri Handoyo, seniman Topeng Malangan dari Padepokan Seni Asmorobangun. Foto : Rully Novianto/malangsatu

MALANG — Di balik setiap topeng yang dikenakan penari, tersimpan kisah, karakter, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah yang membuat Tari Topeng Malangan bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Malang yang patut dijaga kelestariannya.

Kesenian tradisional ini memadukan gerakan tari yang khas, iringan musik gamelan, kostum tradisional, serta topeng dengan beragam karakter. Setiap topeng memiliki bentuk, warna, dan ekspresi berbeda yang menggambarkan tokoh dalam cerita, terutama kisah Panji yang sarat dengan nilai cinta, perjuangan, kesetiaan, dan kepahlawanan.

Di tengah perkembangan zaman, upaya menjaga kesenian tersebut terus dilakukan oleh para pewarisnya. Salah satunya adalah Tri Handoyo, generasi kelima seniman Topeng Malangan dari Padepokan Seni Asmorobangun. Ia mewarisi ilmu dan tradisi seni topeng secara turun-temurun dari leluhurnya, termasuk Mbah Serun dan maestro Topeng Malangan, Mbah Karimun.

Bagi para pewarisnya, Topeng Malangan bukan hanya tentang kemampuan menari atau membuat pertunjukan yang memukau. Kesenian ini juga menjadi penghubung antara generasi masa kini dan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah serta filosofi kehidupan.

“Tari Topeng Malangan bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai budaya dan cerita tradisional kepada generasi muda,” jelas Tri Handoyo.

Dalam setiap pertunjukan, penonton tidak hanya disuguhkan keindahan gerakan dan irama gamelan, tetapi juga diajak mengenal karakter tokoh serta pesan moral yang terkandung dalam cerita. Nilai keberanian, kesetiaan, kebijaksanaan, dan perjuangan menjadi bagian penting yang membuat kesenian ini tetap relevan untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

Meski demikian, pelestarian Tari Topeng Malangan menghadapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya modern. Ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional perlu terus ditumbuhkan agar warisan budaya ini tidak sekadar dikenal sebagai peninggalan masa lalu.

Pengenalan Tari Topeng Malangan melalui pertunjukan seni, kegiatan pendidikan, dan media sosial dapat menjadi langkah untuk mendekatkan kesenian ini kepada generasi muda. Dengan cara tersebut, tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas.

“Kita harus bangga terhadap kesenian daerah sendiri. Jika bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi yang akan menjaga warisan budaya ini?” ungkap seorang pecinta seni budaya.

Keberadaan pewaris seni seperti Tri Handoyo menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi Topeng Malangan. Namun, pelestarian tidak dapat bergantung pada seniman dan padepokan saja. Dukungan masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah juga diperlukan agar kesenian ini terus mendapat ruang untuk berkembang. Pada akhirnya, Tari Topeng Malangan bukan hanya milik para seniman atau masyarakat Malang, melainkan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Menjaganya tetap hidup berarti merawat cerita leluhur sekaligus memastikan generasi mendatang masih dapat menyaksikan, mempelajari, dan mewarisi keindahan seni tradisional ini.

Mbah Karimun Mbah Serun Padepokan Seni Asmorobangun topeng malangan Tri Handoyo